Biografi pengarang music Hymn

Seorang pengarang syair pujian terkenal yang tidak diperbolehkan memakai karya lagu sendiri di gereja tempat ia melayani.

Seorang yang menghasilkan 600 lagu rohani berkualitas, yang sebagian besar dikarang saat bepergian.

Seorang pendeta yang nenek moyangnya sudah satu setengah abad menjadi pemimpin gereja negara di Skotlandia, namun berani keluar dari gerejanya, bahkan memberontak terhadap peraturan-peraturan kaku yang sudah lama mengekang gereja.

Dialah Horatius Bonar…

(19 Desember 1808 - 31 Juli 1889)

Horatius Bonar lahir di Edinburgh, ibu kota Skotlandia. Ia tumbuh dan dididik dalam lingkungan gereja karena nenek moyangnya adalah pemimpin gereja negara . H. Bonar adalah seorang pendeta pada akhir abad ke-18, yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Pekerjaan Tuhan dalam dirinya sepanjang hidup membuatnya memiliki sebuah kehidupan rohani yang baik, sehingga memberi pengaruh besar bagi anak-anak Tuhan pada zamannya.

Selain itu, dia juga seorang pengarang syair terkenal. Dengan karunia talenta dan berkat-berkat rohani yang dipercayakan kepadanya, dan dengan terus menjaga kesaksian hidup, ia setia dan gigih melayani Tuhan terutama dalam pembangunan gereja dan tidak mengenal lelah dalam melayani sesama sampai pada akhir hidupnya.

Menurut peraturan saat itu, hanya pujian Mazmur yang boleh dinyanyikan dalam gereja Skotlandia. Bonar menghadapi persoalan bahwa anak-anak sekolah Minggu yang diajarnya kurang pandai dan tidak suka menyanyikan Mazmur, sehingga ia pun mulai mengarang pujian yang sederhana yang hanya boleh dinyanyikan di luar kebaktian . Karena kesibukannya, ia sering mengarang sambil bepergian. Syair-syairnya jarang diperbaiki atau disempurnakan kembali, namun dari 600 nyanyian rohani yang dihasilkan, sebagian besar merupakan lagu pilihan berkualitas yang memberikan sumbangsih besar pada dunia. Karya hymn Bonar juga masih berkumandang sampai saat ini.

Pada tahun 1843, karena keterpurukan gereja negara itu, yang dikenal sebagai “Free Church” (keberadaan gereja yang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh politik / berada di bawah pengawasan dan kontrol pemerintah secara total), Bonar dan gurunya Dr.Chalmers, beserta 400 hamba Tuhan (1/3 dari Hamba Tuhan di gereja itu) melepaskan diri dari gereja itu. Mereka berpendapat bahwa sekelompok orang yang tidak mengenal Tuhan/ non-Kristen tidak berhak mencampuri ataupun mengatur hal iman percaya dan kerohanian tubuh gereja. Mereka meninggalkan gedung gereja, perumahan pendeta, jaminan honorarium, dan segala-galanya, bahkan harus kehilangan orang-orang yang dikasihi. Mereka dianggap sebagai pengkhianat gereja negara sehingga dilarang menjalin koneksi dengan orang-orang yang tetap tinggal di Skotlandia. Mereka seperti Abraham yang bersandar pada Tuhan, melangkah tanpa mengetahui tempat tujuannya seperti apa. Namun semangat yang tidak berkompromi, keberanian dalam menghadapi penderitaan, dan pengorbanan yang mereka kerjakan sesungguhnya berasal dari Tuhan, sehingga Tuhan terus memimpin dan menyertai sampai akhirnya berdiri gereja di bawah naungan Roh Kudus. Mereka juga mempunyai rumah sakit sendiri, bahkan mengutus banyak Hamba Tuhan dalam misi perkabaran Injil di tempat-tempat yang jauh.

I heard the voice of Jesus say” adalah karya terbesar H.Bonar. Kata-katanya menggambarkan panggilan Tuhan Yesus kepada umat manusia seperti yang tercatat dalam Injil Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tuhan memanggil mereka yang letih lesu, haus secara rohani, dan berada dalam kegelapan; digambarkan juga sambutan manusia terhadap panggilan itu.

“I heard the voice of Jesus say”

I heard the voice of Jesus say, “Come unto Me and rest;
Lay down, thou weary one, lay down Thy head upon My breast.”
I came to Jesus as I was, weary and worn and sad;
I found in Him a resting place, and He has made me glad.

I heard the voice of Jesus say, “Behold, I freely give
The living water; thirsty one, stoop down, and drink, and live.”
I came to Jesus, and I drank of that life giving stream;
My thirst was quenched, my soul revived, and now I live in Him.

I heard the voice of Jesus say, “I am this dark world’s Light;
Look unto Me, thy morn shall rise, and all thy day be bright.”
I looked to Jesus, and I found in Him my Star, my Sun;
And in that light of life I’ll walk, till traveling days are done.

Syair Horatius Bonar yang disoroti dalam pasal ini, oleh pengarangnya sendiri diberi judul "Suara dari Galilea." Ia tahu jelas bahwa suara panggilan Tuhan Yesus itu masih berkumandang sampai saat ini, bahkan dari Galilea sampai ke ujung bumi.

Salah satu lagunya yang sudah kita nyanyikan di GRII Taipei berjudul “Not What My Hands Have Done”. Lagu yang sangat sarat dengan doktrin reformasi ini mengingatkan kita bahwa kita dibenarkan di hadapan Tuhan semata-mata hanya oleh iman melalui Yesus Kristus, bukan karena perbuatan atau keadaan kita. Ini sangat berbeda dengan semangat gereja-gereja pada masa kini yang membawa orang untuk mengejar pengalaman religius, mengejar perbuatan yang mendatangkan berkat bagi diri sendiri. Kiranya pada jaman ini pun Tuhan tampilkan “horatius bonar-horatius bonar” yang teguh meninggikan salib Tuhan dan tidak berkompromi terhadap arus dunia yang menyesatkan.

Not what my hands have done
Can save my guilty soul;
Not what my toiling flesh has borne
Can make my spirit whole.
Not what I feel or do
Can give me peace with God;
Not all my prayers and sighs and tears
Can bear my awful load.

Thy work alone, O Christ,
Can ease this weight of sin;
Thy blood alone, O Lamb of God,
Can give me peace within.
Thy love to me, O God,
Not mine, O Lord to thee,
Can rid me of this dark unrest
And set my spirit free.

Thy grace alone, O God,
To me can pardon speak;
Thy pow'r alone, O Son of God,
Can this sore bondage break.
No other work, save thine,
No other blood will do;
No strength, save that which is divine,
Can bear me safely through.

I bless the Christ of God;
I rest on love divine;
And with unfalt'ring lip and heart
I call this Saviour mine.
This cross dispels each doubt;
I bury in his tomb
Each thought of unbelief and fear,
Each ling'ring shade of gloom.

I praise the God of grace;
I trust his truth and might;
He calls me his, I call him mine,
My God, my joy, my light.
'Tis he who saveth me,
And freely pardon gives;
I love because he loveth me,
I live because he lives.
>Read more...

Sejarah Perkembangan Hymn

Perkembangan nyanyian gereja tidak bisa lepas dari suatu peristiwa penting di dalam sejarah Kekristenan yaitu “Reformasi.” Sebelum terjadinya Reformasi, nyanyian di dalam kebaktian sebenarnya hampir terhapuskan, hal ini disebabkan karena keputusan konsili di Laodikia pada abad keempat yang berbunyi: “Jika jemaat dilarang untuk berkhotbah dan menafsirkan Alkitab, lebih lagi mereka dilarang untuk menyanyi secara umum di gereja.

Setelah Reformasi, perkembangan nyanyian gereja dibagi menjadi dua arus besar yaitu:
1. Choral
Dipelopori oleh Martin Luther, yang menggunakan nyanyian gereja untuk menyatakan doktrin kepercayaan dan aplikasinya.
2. Mazmur
Dipelopori oleh John Calvin, dimana lagu-lagu yang dinyanyikan hanya boleh diambil dari Mazmur saja. Menurut Calvin, semua hal dalam ibadah harus mengekspresikan otoritas firman Tuhan, sehingga lagu-lagu buatan manusia tidak boleh digunakan dan hanya teks Mazmur yg boleh dipakai sebagai puji-pujian dalam ibadah (psalm singing).

Berbeda dengan John Calvin, Luther adalah seorang penyanyi tenor yang baik dan sangat mahir memainkan Lute (sejenis alat musik petik yang dimainkan seperti gitar). Oleh sebab itu Luther mengarang banyak lagu, sebab ia percaya bahwa “Firman Tuhan tersimpan dalam hati orang percaya dengan melalui lagu sebagai alatnya.

Di dalam sejarah gereja, Luther dipakai Tuhan untuk merobohkan tiang tradisi gereja Katolik dan mereformasi gereja melalui 95 tesis yang ditempelkannya di depan gereja Wittenberg. Namun ternyata Tuhan justru memakai John Calvin untuk membangun doktrin dan sistem gereja, sehingga selanjutnya di dalam perkembangannya musik gereja lebih mengikuti sistem Calvin daripada Luther.

Calvin, seperti yang disebutkan di atas, hanya mengizinkan nyanyian jemaat yang memakai Mazmur sebagai dasarnya. Calvin juga melarang pemakaian organ di dalam gereja, bahkan menyanyi dalam harmoni (4 suara) juga dilarang oleh Calvin karena dianggap dapat mengalihkan fokus jemaat dari firman Tuhan.

Seiring dengan perkembangan zaman, gereja-gereja tidak lagi memakai psalter (nyanyian dari mazmur) di dalam ibadah mereka. Perubahan ini terjadi berangsur-angsur dan diawali dengan pemakaian Firman Tuhan di luar Mazmur untuk membuat hymn, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan materi devosi untuk membuat hymn.

Di Inggris perkembangan ini dipengaruhi oleh beberapa tokoh, salah satu yang paling menonjol adalah Isaac Watts (1674-1748) yang pada tahun 1719 menerbitkan “The psalms of David imitated in the Language of the New Testament and Applied to the Christian state and Worship.” Isaac Watts tidak hanya menggabungkan ide Ibrani (Mazmur) dengan Kekristenan (Perjanjian Baru) dalam matriks barunya, namun dia juga percaya bahwa penulis bebas untuk mengekspresikan pujian dan devosi mereka dengan menggunakan bahasanya sendiri. Oleh sebab itu, Isaac Watts dikenal sebagai “Bapak hymnody Inggris.”

Yang perlu diketahui adalah pada periode tersebut, hymn ditulis bukan untuk dinyanyikan, melainkan untuk dibacakan, sehingga hymn Isaac Watts sebenarnya digunakannya untuk merangkumkan khotbahnya, maka tidak heran hymn tersebut mengekspresikan teologi Calvinisnya yang kuat. Sedangkan lagu (tune) ditulis jauh hari setelah teksnya, dan biasanya satu hymn (syair) dapat dinyanyikan dalam beberapa lagu (tune), ataupun sebaliknya sebuah lagu (tune) dapat digunakan untuk menyanyikan beberapa hymn (syair). Kesesuaiannya tergantung kepada matriks (meter) dari pada setiap hymn.

Berbagai tokoh yang mempengaruhi perkembangan hymn Inggris antara lain John dan Charles Wesley, John Rippon, John Newton dan William Cowper dengan Olney Hymns-nya, William Williams, Thomas Olivers, Augustus Toplady, Edward Perronet, John Fawcett, dan lain-lain. Pada periode tersebut hampir semua penulis hymn sangat mementingkan pengungkapan pengakuan dari doktrin mereka.

Sementara di Amerika, para puritan yang baru hijrah ke benua baru ini menggunakan nyanyian gereja ala Calvin. Namun kemudian juga mulai mengikuti perkembangan hymn di Inggris yaitu hymn baru karangan Isaac Watts dan kawan-kawan, yang kemudian dikenal dengan “composure hymn” (hymn karangan).

Selanjutnya di Amerika terjadi berbagai kebangunan rohani besar-besaran. Dimulai dengan yang terjadi pada abad 18, dipimpin oleh Jonathan Edwards dengan dibantu oleh teolog dan penginjil Inggris, George Whitefield, yang dikenal dengan The Great Awakening. Selanjutnya pada abad 19 terdapat berbagai camp meeting, yaitu kebaktian outdoor yang dihadiri oleh ribuan orang, dimana mereka perlu menempuh perjalanan 3-4 hari dengan wagon (sejenis kereta yang ditarik oleh kuda) atau berjalan kaki selama seminggu untuk menghadiri kebaktian tersebut. Para peserta membawa tenda, tempat tidur, dan makanan karena kebaktian berlangsung selama beberapa hari. Klimaksnya pada akhir abad 19 yaitu kebaktian kebangunan rohani besar-besaran yang diadakan oleh D. L. Moody.
Oleh karena berbagai kebaktian kebangunan rohani ini, maka lahirlah nyanyian-nyanyian yang bertemakan Injil, kemudian dikenal dengan istilah Gospel song. Perbedaan hymn yang dipakai dalam kebaktian dengan gospel song terletak pada tujuannya yang pastinya akan mempengaruhi temanya. Jika hymn bertujuan untuk memuliakan Tuhan, gospel song tujuannya adalah untuk memberikan kesaksian, dorongan, peringatan dan ajakan kepada sesama manusia. Akibatnya tema hymn menjadi lebih objektif dan arahnya ke atas yaitu tertuju kepada Tuhan, sebaliknya gospel song lebih bersifat subjektif dan arahnya horizontal di antara sesama manusia. Namun mengingat tujuannya kedua jenis nyanyian ini memang memiliki fungsi yang berbeda, dimana hymn dipakai di dalam kebaktian, sedangkan gospel song digunakan di dalam KKR dan persekutuan. Salah satu ciri khas yang membedakan keduanya adalah teks hymn biasanya menyelesaikan lagu tanpa teknik refrain (chorus), sedangkan gospel song menggunakan refrain (chorus) pada akhir setiap ayatnya.


Bagaimanapun juga Tuhan telah memakai Gospel song di dalam kesederhanaannya untuk tujuan pengabaran Injil, walaupun banyak kritik dilayangkan untuk jenis lagu ini disebabkan karena teksnya yang lebih tertuju kepada manusia (diri) dan juga kualitas musiknya yang tidak terlalu bagus.

Dari gospel song yang subjektif dan mengarah kepada diri, lagu-lagu yang dipakai dalam ibadah pada zaman sekarang ini semakin lagi tertuju dan mengutamakan manusia, bahkan rock beat juga ikut masuk di dalam ibadah gereja. Hal ini sangat perlu kita perhatikan dan waspadai. Mengingat kembali tujuan ibadah dan penyembahan manusia adalah hanya untuk meninggikan dan memuliakan Tuhan Sang Pencipta dan Penebus manusia, maka hendaklah setiap pujian dan penyembahan yang diberikan adalah tertuju hanya kepadaNya. Pengalaman dan perasaan manusia tidaklah boleh mendominasi ibadah, sebaliknya yang harus diutamakan adalah kebenaran Tuhan yang tidak pernah berubah.

Dari zaman gereja mula-mula menuju gereja Roma Katolik, dan kemudian Reformasi, musik gereja telah mengalami berbagai perkembangan. Bahkan saat ini gereja baik besar maupun kecil telah memiliki paduan suara. Musik gerejawi telah mendapatkan posisi yang penting di dalam gereja. Hendaklah setiap perkembangan ini tetap hanya tertuju kepada Sang Pencipta dan Penebus kita, sebab adalah benar tujuan manusia diciptakan, hanyalah untuk menikmati dan memuliakan DIA saja, satu-satunya Tuhan, Allah Tritunggal.
Soli Deo Gloria.
(DB)

Referensi:
Osbeck, Kenneth. Singing with Understanding. Grand Rapids: Kregel Publications, 1979.
Poteat, Hubert Mcneill. Practical Hymnology. Canada : BiblioLife, 2008.
http://theologyforum.files.wordpress.com/2008/06/hymn-1.jpg



>Read more...

 
Share