Sejarah Perkembangan Hymn

Perkembangan nyanyian gereja tidak bisa lepas dari suatu peristiwa penting di dalam sejarah Kekristenan yaitu “Reformasi.” Sebelum terjadinya Reformasi, nyanyian di dalam kebaktian sebenarnya hampir terhapuskan, hal ini disebabkan karena keputusan konsili di Laodikia pada abad keempat yang berbunyi: “Jika jemaat dilarang untuk berkhotbah dan menafsirkan Alkitab, lebih lagi mereka dilarang untuk menyanyi secara umum di gereja.”

Setelah Reformasi, perkembangan nyanyian gereja dibagi menjadi dua arus besar yaitu:
1. Choral
Dipelopori oleh Martin Luther, yang menggunakan nyanyian gereja untuk menyatakan doktrin kepercayaan dan aplikasinya.
2. Mazmur
Dipelopori oleh John Calvin, dimana lagu-lagu yang dinyanyikan hanya boleh diambil dari Mazmur saja. Menurut Calvin, semua hal dalam ibadah harus mengekspresikan otoritas firman Tuhan, sehingga lagu-lagu buatan manusia tidak boleh digunakan dan hanya teks Mazmur yg boleh dipakai sebagai puji-pujian dalam ibadah (psalm singing).

Berbeda dengan John Calvin, Luther adalah seorang penyanyi tenor yang baik dan sangat mahir memainkan Lute (sejenis alat musik petik yang dimainkan seperti gitar). Oleh sebab itu Luther mengarang banyak lagu, sebab ia percaya bahwa “Firman Tuhan tersimpan dalam hati orang percaya dengan melalui lagu sebagai alatnya.”

Di dalam sejarah gereja, Luther dipakai Tuhan untuk merobohkan tiang tradisi gereja Katolik dan mereformasi gereja melalui 95 tesis yang ditempelkannya di depan gereja Wittenberg. Namun ternyata Tuhan justru memakai John Calvin untuk membangun doktrin dan sistem gereja, sehingga selanjutnya di dalam perkembangannya musik gereja lebih mengikuti sistem Calvin daripada Luther.

Calvin, seperti yang disebutkan di atas, hanya mengizinkan nyanyian jemaat yang memakai Mazmur sebagai dasarnya. Calvin juga melarang pemakaian organ di dalam gereja, bahkan menyanyi dalam harmoni (4 suara) juga dilarang oleh Calvin karena dianggap dapat mengalihkan fokus jemaat dari firman Tuhan.

Seiring dengan perkembangan zaman, gereja-gereja tidak lagi memakai psalter (nyanyian dari mazmur) di dalam ibadah mereka. Perubahan ini terjadi berangsur-angsur dan diawali dengan pemakaian Firman Tuhan di luar Mazmur untuk membuat hymn, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan materi devosi untuk membuat hymn.

Di Inggris perkembangan ini dipengaruhi oleh beberapa tokoh, salah satu yang paling menonjol adalah Isaac Watts (1674-1748) yang pada tahun 1719 menerbitkan “The psalms of David imitated in the Language of the New Testament and Applied to the Christian state and Worship.” Isaac Watts tidak hanya menggabungkan ide Ibrani (Mazmur) dengan Kekristenan (Perjanjian Baru) dalam matriks barunya, namun dia juga percaya bahwa penulis bebas untuk mengekspresikan pujian dan devosi mereka dengan menggunakan bahasanya sendiri. Oleh sebab itu, Isaac Watts dikenal sebagai “Bapak hymnody Inggris.”

Yang perlu diketahui adalah pada periode tersebut, hymn ditulis bukan untuk dinyanyikan, melainkan untuk dibacakan, sehingga hymn Isaac Watts sebenarnya digunakannya untuk merangkumkan khotbahnya, maka tidak heran hymn tersebut mengekspresikan teologi Calvinisnya yang kuat. Sedangkan lagu (tune) ditulis jauh hari setelah teksnya, dan biasanya satu hymn (syair) dapat dinyanyikan dalam beberapa lagu (tune), ataupun sebaliknya sebuah lagu (tune) dapat digunakan untuk menyanyikan beberapa hymn (syair). Kesesuaiannya tergantung kepada matriks (meter) dari pada setiap hymn.

Berbagai tokoh yang mempengaruhi perkembangan hymn Inggris antara lain John dan Charles Wesley, John Rippon, John Newton dan William Cowper dengan Olney Hymns-nya, William Williams, Thomas Olivers, Augustus Toplady, Edward Perronet, John Fawcett, dan lain-lain. Pada periode tersebut hampir semua penulis hymn sangat mementingkan pengungkapan pengakuan dari doktrin mereka.

Sementara di Amerika, para puritan yang baru hijrah ke benua baru ini menggunakan nyanyian gereja ala Calvin. Namun kemudian juga mulai mengikuti perkembangan hymn di Inggris yaitu hymn baru karangan Isaac Watts dan kawan-kawan, yang kemudian dikenal dengan “composure hymn” (hymn karangan).

Selanjutnya di Amerika terjadi berbagai kebangunan rohani besar-besaran. Dimulai dengan yang terjadi pada abad 18, dipimpin oleh Jonathan Edwards dengan dibantu oleh teolog dan penginjil Inggris, George Whitefield, yang dikenal dengan The Great Awakening. Selanjutnya pada abad 19 terdapat berbagai camp meeting, yaitu kebaktian outdoor yang dihadiri oleh ribuan orang, dimana mereka perlu menempuh perjalanan 3-4 hari dengan wagon (sejenis kereta yang ditarik oleh kuda) atau berjalan kaki selama seminggu untuk menghadiri kebaktian tersebut. Para peserta membawa tenda, tempat tidur, dan makanan karena kebaktian berlangsung selama beberapa hari. Klimaksnya pada akhir abad 19 yaitu kebaktian kebangunan rohani besar-besaran yang diadakan oleh D. L. Moody.
Oleh karena berbagai kebaktian kebangunan rohani ini, maka lahirlah nyanyian-nyanyian yang bertemakan Injil, kemudian dikenal dengan istilah Gospel song. Perbedaan hymn yang dipakai dalam kebaktian dengan gospel song terletak pada tujuannya yang pastinya akan mempengaruhi temanya. Jika hymn bertujuan untuk memuliakan Tuhan, gospel song tujuannya adalah untuk memberikan kesaksian, dorongan, peringatan dan ajakan kepada sesama manusia. Akibatnya tema hymn menjadi lebih objektif dan arahnya ke atas yaitu tertuju kepada Tuhan, sebaliknya gospel song lebih bersifat subjektif dan arahnya horizontal di antara sesama manusia. Namun mengingat tujuannya kedua jenis nyanyian ini memang memiliki fungsi yang berbeda, dimana hymn dipakai di dalam kebaktian, sedangkan gospel song digunakan di dalam KKR dan persekutuan. Salah satu ciri khas yang membedakan keduanya adalah teks hymn biasanya menyelesaikan lagu tanpa teknik refrain (chorus), sedangkan gospel song menggunakan refrain (chorus) pada akhir setiap ayatnya.


Bagaimanapun juga Tuhan telah memakai Gospel song di dalam kesederhanaannya untuk tujuan pengabaran Injil, walaupun banyak kritik dilayangkan untuk jenis lagu ini disebabkan karena teksnya yang lebih tertuju kepada manusia (diri) dan juga kualitas musiknya yang tidak terlalu bagus.

Dari gospel song yang subjektif dan mengarah kepada diri, lagu-lagu yang dipakai dalam ibadah pada zaman sekarang ini semakin lagi tertuju dan mengutamakan manusia, bahkan rock beat juga ikut masuk di dalam ibadah gereja. Hal ini sangat perlu kita perhatikan dan waspadai. Mengingat kembali tujuan ibadah dan penyembahan manusia adalah hanya untuk meninggikan dan memuliakan Tuhan Sang Pencipta dan Penebus manusia, maka hendaklah setiap pujian dan penyembahan yang diberikan adalah tertuju hanya kepadaNya. Pengalaman dan perasaan manusia tidaklah boleh mendominasi ibadah, sebaliknya yang harus diutamakan adalah kebenaran Tuhan yang tidak pernah berubah.

Dari zaman gereja mula-mula menuju gereja Roma Katolik, dan kemudian Reformasi, musik gereja telah mengalami berbagai perkembangan. Bahkan saat ini gereja baik besar maupun kecil telah memiliki paduan suara. Musik gerejawi telah mendapatkan posisi yang penting di dalam gereja. Hendaklah setiap perkembangan ini tetap hanya tertuju kepada Sang Pencipta dan Penebus kita, sebab adalah benar tujuan manusia diciptakan, hanyalah untuk menikmati dan memuliakan DIA saja, satu-satunya Tuhan, Allah Tritunggal.
Soli Deo Gloria.
(DB)

Referensi:
Osbeck, Kenneth. Singing with Understanding. Grand Rapids: Kregel Publications, 1979.
Poteat, Hubert Mcneill. Practical Hymnology. Canada : BiblioLife, 2008.
http://theologyforum.files.wordpress.com/2008/06/hymn-1.jpg



 
Share